Selasa, 15 November 2011

SEMALAM DI BELITUNG / BALITONG (BALI TERPOTONG)

29-30 Oktober, 2011


Lima belas menit sebelum pesawat yang kami naiki mendarat di bandar udara tujuan, aku melepaskan semua rasa penasaranku yang tidak tertahankan pada daratan yang terbentang di bawah. Landai berwarna hijau dengan gradasi yang menyegarkan penglihatan, sementara di beberapa tempat berwarna putih kebiru-biruan. Aku mengira-ngira mungkin itu lubang-lubang bekas penggalian tambang yang telah ditinggalkan sebagaimana cerita-cerita yang kudengar selama ini dan sekarang lebih dikenal dengan nama danau kaolin.


Aku tegakkan kembali posisi dudukku saat sang pilot memberitahu bahwa pesawat pada posisi siap mendarat. Kulirik Nove yang untuk kali pertama ngetrip bersama kami. Ia masih tenggelam dalam musik yang didengarnya lewat earphone. Ia sangat bergantung pada benda tersebut untuk mengurangi efek dengung di telinganya. Sebaliknya Maria sibuk mencari pramugari guna memesan lampu pengganti lilin, yang dirasa olehnya sangat berguna saat berkemah nanti. Walau masing-masing dari kami sudah membawa lampu senter, Ia tetap kekeh untuk membeli lampu tersebut. Sementara itu Dektina yang duduk terpisah dari kami bertiga menemukan teman mengobrol selama perjalanan.


Sedikit terlambat dari jadwal, kami tiba di bandar udara H. As. Hanandjoedin Tanjung Pandan. Setelah mengambil barang-barang dari bagasi, buru-buru kami menjumpai seorang teman yang sudah menanti. Hari yang merupakan putra daerah Belitung akan menjadi tour guide kami. Segera kami berempat digiring ke halaman parkir dimana mobil yang kami sewa seharga Rp. 250.000,- per hari (note: harga tersebut belum termasuk sopir) telah siap mengantar berkeliling.


Mobil yang kami kendarai meluncur dengan lancar di jalanan kota yang terlihat sepi bila dibading Jakarta tentunya. Setelah melewati beberapa perempatan, kami tiba di kedai Telapak untuk menjemput Iqbal yang datang ke Belitung sehari sebelumnya  dan 3 orang teman Belitung lainnya Dita, Ramses, Alfa yang akan bergabung dengan kami.       Sementara yang lain mempersiapkan berbagai hal berikut menata barang-barang bawaan ke dalam mobil, aku dan Nove berjalan ke arah Rumah Adat Belitung yang tidak jauh dari kedai Telapak. Keberadaan Rumah Adat Belitung sendiri masih relatif baru, hal ini  terlihat pada batu peresmiaannya tertanggal 30 Juni 2009.

Tertarik dengan ornamen yang ada, kami terusik ingin tahu lebih banyak, akan tetapi baru saja kami hendak membuka sepatu untuk memasuki rumah adat, suara klakson mobil yang berisi teman-teman kami sudah menanti di seberang jalan. Menyadari waktu yang terbatas, aku dan Nove segera bergegas menjumpai mereka. Tapi andaikata rekan-rekan sempat berkunjung ke Rumah Adat Belitung, sempatkanlah masuk dan mencoba memakai pakaian adat yang ada, lalu bergaya ala orang melayu dengan rumah panggungnya. Pasti keren!!!


Mobil meluncur diatas jalan aspal yang mulus menuju tujuan pertama  yakni sungai Batu Mentas di desa Kelekak Datuk kecamatan Badau. Setelah +/- 30 menit mobil berbelok memasuki jalan beraspal tipis dimana di sebelah kanan terhampar kebun nanas sedangkan di sebelah kiri pohon-pohon lada berdaun hijau muda berderet-deret rapi, persis di ujung jalan aspal mobil berhenti. Kami segera turun dan membawa perlengkapan seperlunya. Selanjutnya untuk menuju lokasi harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit sedikit mendaki di jalan tanah merah yang bertabur bulir-bulir kerikil berwarna putih susu. Selain kebun nanas dan lada, di lokasi ini juga terdapat budidaya lebah madu.


Tiba di lokasi Batu Mentas, Ramses, Alfa dan Iqbal menuju ke arah hulu dimana terdapat batu pipih yang menghalang aliran sungai. Disitu mereka berganti pakaian dan langsung menjeburkan diri ke dalam air. Sementara Dita diikuti Dektina, Maria dan Aku menyusur aliran sungai ke arah hilir, dimana terdapat terjunan air yang sering digunakan foto untuk acara pre-wedding. Sedang Nove yang menolak untuk mandi, duduk dengan santai diatas batu gunung berwarna gelap yang mencuat diantara aliran air sungai yang jernih. Dan sang fotografer ‘Hari’ berpindah-pindah guna membidik setiap aksi kami.      
    
12:25 Wib kami bertolak dari Batu Mentas menuju pantai Tanjung Tinggi yang merupakan tempat syuting film ‘Laskar Pelangi’ yang diangkat dari novel berjudul sama karya ‘Andrea Hirata’. Kira-kira satu jam setengah kami baru tiba di pantai berpasir putih yang lembut dengan laut berwarna biru kehijau-hijauan. Keindahan alam memang sangat memikat tapi alarm dari perut kami sudah memberi tanda dari dua jam yang lalu minta diisi.


Kami bersembilan menuju ke salah satu warung makan yang ada di sepanjang pantai. Setelah memesan dan menunggu dengan teramat sabar, ikan bakar dan tumis kangkung keluar dengan aroma yang menggoda, lalu disusul dengan sajian khusus khas Belitung ‘Gangan’ yakni ikan ketarap yang dibumbui kunyit, cabe dan potongan nanas.


Setelah tenaga kami pulih, kami segera menyusuri pantai Tanjung Tinggi, bermain dengan deburan ombaknya, dan berfoto diatara batu-batu granit berukuran raksasa. Andai waktu tidak membatasi, tentu kami kian terlena oleh kecantikan alam yang terhampar di depan mata.

16:00 Wib kami memutuskan segera berkemas dan menuju pantai Tanjung Kelayang. Pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang hanya berjarak tempuh sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor. Di pantai ini kami menghabiskan sunset sambil bersiap-siap yakni memindahkan barang-barang dan perbekalan ke atas perahu yang akan membawa kami ke pulau Kepayang (pulau Babi).

Bersama lungsurnya cahaya matahari ke tempat istirahatnya, perahu yang kami naiki bertolak dari pantai Tanjung Kelayang. Harga sewa perahu kami Rp. 350.000,- dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang. Walau saat itu musim alun (ombak) sebagaimana dijelaskan oleh tukang perahu, kami bersyukur selama pelayaran laut relatif tenang dan setelah sepuluh menit berlayar kami tiba di pulau Kepayang.

Mengikuti petunjuk Ramses, kami mengambil sejumput pasir saat kaki kami menjejak di bibir pulau dan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing agar tidak mendapat gangguan selama berada di pulau tersebut. Dita yang tidak ikut camping kembali ke Tanjung Kelayang bersama perahu yang membawa kami. Selanjutnya kami berdelapan berjalan beriringan menembus ilalang dan bayangan pohon-pohon yang merunduk menuju gelap. Kami berjalan tanpa suara, hanya langkah kaki dan dengus nafas kami yang memburu bersama siulan angin pantai. Kami baru berkata-kata ketika telah tiba dan berada di kawasan camping.

Sementara yang lain istirahat aku bersama Hari dan Ramses berkeliling mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Tapi apabila tidak mau susah membawa kantong tidur dan matras sendiri  seperti kami, di pulau Kepayang terdapat Bungalow yang disewakan seharga Rp. 350.000,- dan Cottage Rp. 250.000,- dengan fasilitas makan pagi untuk 2 orang, jika butuh extra bed dikenai tambahan biaya Rp. 50.000,- sudah termasuk makan pagi. Juga terdapat Barak yang mampu menampung 10 orang dengan biaya Rp. 60.000,- per orang sudah termasuk sarapan pagi.

Begitu tenda berdiri, Iqbal segera mengatur matras dan kantong tidur para perempuan. Para pria tidur di luar tenda untuk berjaga-jaga.  Selanjutnya secara bergantian kami membersihkan diri di kamar mandi umum yang terdapat di pulau tersebut. Yang membuat aku terkesima adalah air di pulau Kepayang sangat jernih dan tidak payau sebagaimana umumnya pulau-pualu kecil atau daerah yang berada di dekat pantai. Puas mengguyur badan dengan air yang segar, aku berbenah dan sholat. Setelah itu aku segera bergabung dengan teman-teman yang telah lebih dahulu menyantap makan malam mereka dengan lahap. Untunglah aku masih kebagian ikan ‘Babulus’ yang terkenal gurih dan bertulang lunak.

Selesai makan, kami berkumpul dan bernyanyi diiringi petikan gitar dari jari-jari Hari yang terampil. Namun tepat jam sepuluh generator yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik padam, membuat seluruh pulau dalam keadaan gulita. Dan karena kami belum benar-benar mengantuk, kami menyusuri pantai yang surut. Apabila kami beruntung, kami bisa bertemu dengan penyu yang akan bertelur. Mengingat pulau Kepayang adalah tempat penangkaran  penyu sisik. Kami terus berjalan dan sampai di depan batu yang menyerupai sanggul (konde jawa). Lalu kami terangi batu tersebut dengan lampu senter, batunya berpendar memantulkan cahaya. Jika dilihat lebih teliti batu tersebut ternyata tersusun dari pecahan kristal-kristal granit yang unik.

Tidak jauh dari batu sanggul, terdapat batu lain yang permukaannya datar, aku merebahkan tubuhku diatas batu tersebut diikuti teman-temanku yang lain. Sambil melepaskan pandangan ke langit dimana berjuta bintang bertabur, kami bertaruh untuk menemukan satu rasi bintang. Lebih dari itu salah satu dari kami nyeletuk, “Semoga bisa menemukan bintang jatuh, sehingga bisa membuat satu permohonan”  yang selanjutnya diikuti derai tawa.

Merasa mengantuk aku mengajak teman-teman untuk kembali ke perkemahan.  Sesampainya di depan tenda aku langsung masuk dan merebahkan badanku yang terasa lelah sekali. Kami tidur berjajar di atas kantung tidur masing-masing. Sambil membaca doa sebelum tidur, aku memandang lampu dari mercusuar di seberang pulau. Berkedip-kedip menghantarku menuju perjalanan yang lebih menakjubkan. Aku terlelap.  

Aku terbangun untuk yang ketiga kalinya saat Nove bertanya, “apakah hujan turun? Sejak semalam aku mendengar suara air,” tuturnya polos. Kiranya ia lupa jika saat ini sedang berkemah dan tidur di pinggir pantai. Dan suara air yang semakin jelas terdengar itu karena air laut dalam keadaan pasang.

Selesai sholat shubuh, kami segera menjemput sang fajar dengan suka cita. Matahari masih merangkak lamban, namun cahayanya yang berpendar telah menyirami kami dengan gradasi warna yang menakjubkan. Meneteskan embun diujung rumput dan dedaunan. Juga menyingkirkan bayangan bunga-bunga pohon ketapang yang jatuh semalam dari tangkainya sehingga terlihat anggun meski tersuruk diatas akar-akar pohon yang mencuat dari tanah.

Persis di belakang Bungalow terdapat tempat penangkaran penyu sisik. Binatang bercangkang yang mempunyai empat kaki dan mampu hidup di darat dan laut itu berenang di dalam kolam-kolam kecil tempat mereka dirawat dan dijaga sebelum dilepas ke habitat aslinya. Selesai mengamati dan memoto para tukik (anak penyu), kami kembali ke perkemahan.

Ramses yang merupakan koki andalan kedai Telapak segera menyiapkan sarapan pagi buat kami, dan Iqbal menggulung kantung tidur dan matrass bersama Hari. Nove membersihkan kerang-kerang yang dipungutnya di pantai. Maria dan Dektina pergi mandi dan berganti pakaian, sedang aku mencoba permainan outbond. Merangkak diatas jaring-jaring mirip manusia laba-laba, cukup menantang dan menguras tenaga. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, banyak hal yang bisa dilakukan di pulau Kepayang seperti berkano, snorkling dan diving, lengkap dengan peralatan dan pemandu yang professional.

Selesai sarapan mie goreng, kami segera berkemas menanti Dita bersama perahunya yang akan mengajak kami berkeliling mengunjungi pulau-pulau disekitar Belitung. Satu jam terlambat dari jadwal yang ada, jam 08:30 Wib akhirnya kami berangkat menuju Pulau Lengkuas.

Hanya butuh waktu 15 menit kami sudah merapat di pulau Lengkuas. Aku mendongakkan kepala, menatap mercusuar peninggalan masa penjajahan Belanda yang masih berdiri kokoh menjulang ke angkasa. Mercusuar di pulau Lengkuas tersebut dibangun pada tahun 1882 dan saat ini masuk dalam distrik navigasi Tanjung Priok (DSI 1880) Ditjen Perhubungan Laut – Departemen Perhubungan.

Setelah puas berfoto-foto, kami kembali ke kapal dan masih di perairan sekitar pulau Lengkuas kami bersiap-siap untuk melihat keindahan bawah laut. Satu-persatu masuk ke dalam air, dan saat aku mencelupkan kepala dan membiarkan pandanganku liar menyapu lautan; terumbu karang yang subur menghias dasar lautan, ada pula yang mirip bunga mawar berwarna merah menyala dengan kelopaknya yang besar-besar sedang ikan-ikan beraneka warna berenang diantaranya. Ikan Badut (amphiprion ocellaris) juga terlihat malu-malu diantara anemonnya. Sementara kami terpesona oleh keindahan bawah laut, Nove yang tidak mau snorkle asyik memberi makan ikan dengan remah-remah roti.

Sengatan matahari kian terik membakar, saat kami memulai perjalanan menuju pulau burung. Sekitar 30 menit dari pulau Lengkuas kami merapat di pulau burung dan mengambil foto batu burung. Kapal kembali berlayar menuju Batu Berlayar, mengingat laut sedang pasang kami tidak bisa melihat keelokan Batu Berlayar yang sesungguhnya, sangat disayangkan.

Sebelum mencapai pantai Tanjung Kelayang, kami melewati batu Garuda. Kami berdecak kagum sambil mengabadikannya pada camera masing-masing. 11:30 Wib perahu merapat di pantai Tanjung Kelayang. Begitu kami turun, kami langsung digiring ke salah satu rumah makan yang ada. Secara bergiliran kami bergegas mandi dan bertukar pakaian. Selanjutnya kami makan siang; menu laut tetap mendominasi, cumi, udang, dan sup ikan ketarap telah siap untuk disantap.


13:30 Wib kami meninggalkan pantai Tanjung Kelayang menuju kedai Telapak untuk menurunkan barang-barang, lalu berlanjut ke pantai Tanjung Pendam untuk mencari souvenir dan oleh-oleh. Pantai Tanjung Pendam merupakan taman hiburan bagi penduduk Belitung, disana terdapat kios-kios yang menawarkan oleh-oleh ala Belitung yang bisa dibawa pulang dengan harga terjangkau. Kami mampir kesalah satu kios souvenir, dan masing-masing dari kami mendapat satu kaos hitam bertuliskan ‘BELITUNG’.

Selesai sholat kami segera bergegas meninggalkan pantai Tanjung Pendam dan langsung meluncur ke arah bandara. 15:00 Wib kami tiba di Bandara, setelah berpamitan dengan Hari, Dita, Ramses dan Alfa kami segera masuk untuk check in pesawat. Sedang Iqbal akan kembali ke Jakarta esok harinya, dengan penerbangan pagi.

Sementara Kru pesawat yang terdiri atas wanita-wanita anggun tengah menerangkan alat-alat keselamatan sebelum penerbangan. Nove yang duduk di pinggir mengeluarkan earphone dan segera membenamkan alat tersebut ke dalam telinganya. Diseberang Nove, Maria sudah memejamkan mata, istirahat akan memulihkan kekuatannya yang terkuras selama perjalanan. Sedang Dektina yang duduk diantara aku dan Nove masih asyik melihat hasil foto-foto dari kameraku. Sesekali aku turut berkomentar atas hasil foto tersebut. Dan ketika pesawat mulai take off, Dektina mematikan kamera dan mengembalikannya padaku. Ia membenamkan tubuhnya di sandaran kursi dan berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Kugosok jendela yang berembun dengan telapak tanganku, lalu kulepas pandanganku pada daratan yang kutinggalkan. Semalam di pulau penghasil timah ini telah memberiku kesan yang dalam. ‘See you the beauty Belitong’    


Oleh: Wedhya Wardani
Terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan kepada;
Harianto, Iqbal, Dektina S, Maria U, Nove I,  Dita A, Ramses, dan Alfa.













15 komentar:

  1. wah...asyik juga ya kalau baca ceritanya, tp lebih asyik lagi krn aku telah menjadi salah satu peserta trip ini, thanks buat wedhya n temen2 yg laen, senang telah bersama2 kalian...

    BalasHapus
  2. wow keren2 fotonya..pasti pakai SLR ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wedhya Wardani25 Mei 2012 10.07

      Thank you dik ^_^

      Hapus
  3. Iqbal says :
    mantap ceritanya sampe aku terkesima :D
    seolah ingin mengulang suasana seperti itu lagi..
    dan sekali aku minta maaf atas putusnya tali tas punggungmu waktu itu.....

    BalasHapus
  4. Knapa aku bisa lupa bagian itu ya maz Iqbal????
    Tali tas boleh putus,,, tapi persahabatan kudu semakin kuat ya.

    BalasHapus
  5. iqbal says :

    klo persahabatan kita semua kan bagaikan kepongpong (*-^) gk kan sampe putuslah mba.

    BalasHapus
  6. muhik... parahli

    BalasHapus
  7. Okey dech ulat bulu yang keren (mz Iqbal)... heheee... ^_^

    BalasHapus
  8. sangat keren petualangannya,foto yang diambil juga sangat indah ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih,,, lebih keren lagi bisa berkunjung ke Belitong ^_^

      Hapus
  9. Indonesia memang indah..

    BalasHapus
  10. Asyyik bgt yah, seru
    Tp ada yg ngeganjel nih...ga aci ah kalo BPI jalan2nya pake mobil ndiri...kan jadinya bukan backpackeran lg dong...tp tamasyaan.
    krn serunya tuh sulitnya capai tujuan dgn kendaraan umum atau jalan kaki. hehehehe...maaf kritik dikit. maju terus BPI

    BalasHapus
  11. Wedhya Wardani25 Mei 2012 09.43

    @Mars: Di Belitung susah angkutan umum,, dan klo dihitung-hitung jatuhnya nggak jauh beda dengan kita carter mobil. Pertimbangan lainnya adalah keterbatasan waktu yang ada.
    Yang penting budged tetep murah kan,,,
    Sebagai bocoran masing-masing patungan Rp.500.000,- (sudah semuanya termasuk oleh-oleh kaos bertuliskan BELITUNG), diluar ticket pesawat ya.

    *)waktu itu ticket pesawat pake Sriwijaya Air kena Rp.500ribu (PP JKT-Tanjung Pandan.

    BalasHapus
  12. belitong,
    tempat kelahiran,jadi kangen kampung :'(

    BalasHapus