Kamis, 03 November 2011

PUKAU KILAU PAPANDAYAN

Perjalanan kali ini terhitung perjalanan yang sangat dadakan, bagaimana tidak karena H-1 tepatnya hari kamis saya baru diajak teman saya (dibaca lenggo) untuk melakukan pendakian ke gunung dengan ketinggian 2665 Mdpl. Sontak segala persiapan dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Niat dan keinginan yang kuatlah yang akhirnya bisa membawa kami untuk lagi-lagi memanjakan mata atas karunia cipta-Nya.


Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.Gunung ini sangat terkenal di kalangan para pendaki, khususnya pendaki pemula. Selain terkenal dengan keindahan struktur alamnya, gunung ini juga memiliki kawah belerang yang masih aktif dan masih rimbunnya padang Eidelweis yang luasnya mencapai puluhan are serta banyak pula pohon Mutiara Putih. Gunung Papandayan merupakan cagar alam yang didalamnya banyak terdapat keanekaragaman hayati dan obyek-obyek wisata alam yang indah.
Papandayan tercatat beberapa kali erupsi. Di antaranya pada 1773, 1923, 1942, 1993, dan 2003. Letusan besar yang terjadi pada tahun 1772 menghancurkan sedikitnya 40 desa dan menewaskan sekitar 2951 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan. Pada 25 Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500 derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai Cisurupan. Pada 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak. Pada tahun 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas. Sejak April 2006 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Papandayan ditingkatkan menjadi waspada, setelah terjadi peningkatan aktivitas seismik. Pada 7-16 April 2008 Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Mas (245-262 derajat Celsius), dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Sementara tingkat pH berkurang dan konsentrasi mineral meningkat. Pada 28 Oktober 2010, status Papandayan kembali meningkat menjadi level 2. (Sumber Wikipedia)
Berangkat jam 09.30 malam dari terminal Lebak Bulus menuju Garut mengunakan bus Primajasa dengan tarif 35rb. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam lebih lama dari biasanya karena sedang ada perbaikan jalan di jalur nagreg. Perbaikan jalan tersebut sebagai salah satu program pemerintah dalam persiapan jalur mudik lebaran tahun 2011 ini. Kondisi tubuh yang letih, capek dan lelah karena pagi sampai sorenya kami bekerja terlebih dahulu sebelum malamnya melakukan perjalanan membuat kali ini saya dan teman-teman tidak sempat menikmati perjalanan. Kami semua terlelap dalam istirahat, sesekali saya terbangun karena jatuh dari kursi akibat jalan yang berkelok.
Jam tangan menunjukan pukul 04.00, Adzan subuh mulai berkumandang, tepat dengan kedatangan kami di Terminal Guntur Garut. Kami langsung menuju masjid untuk menghadap Ilahi, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah melakukkan sujud syukur, kamipun bergegas mencari sarapan, karena LAPARRRRR yang mendera. Cari sana-sini akhirnya dapat warung gerobak dorong yang menjual nasi kuning dan bubur ayam, dalam waktu sekejam dimulailah kerusuhan terjadi, setiap anak bilang “bu saya nasi kuning porsi besar pake telor dadar 1, saya bubur ayam g pake sambel kacangnya sedikit aza bu, bu saya nasi kuning enggak pake kecap (eh…glek emang ada nasi kuning pake kecap?), bu saya ibu nya aza…hehehheh…. Semua rusuh karena mengatas namakan Lapar… 10 menit berlalu semua terdiam dan terhanyut dalam makanan masing-masing. 
Jam sudah menunjukan pukul 06.00, langsung bergegas cari angkot setelah 30 menit bergulat dalam ritual tawar menawar akhirnya si Mamang tukang angkot menyerah di harga 150rb sampai pos regestrasi pendakian, cihuy….akhirnya KO juga dia. Semua masuk ke dalam angkot kumpulin uang patungan, dan langsung menikmati perjalanan di pagi hari yang indah ini. Bila kita tidak mencarter angkot ada alternatif lain untuk mendaki Papandayan, pertama-tama sambangilah kota kecil Cisurupan via jalur Garut-Pameungpeuk dengan ongkos angkot 5-7rb/org. Dari Cisurupan, naik terus ke atas hingga parkiran kawah mengunakan mobil pik-up biasanya kena ongkos 10-15rb/org. Kalau membawa kendaraan pribadi, persiapkan kendaraan dan tentunya mental sang pengemudi untuk menghadapi jalanan berlubang sepanjang kira-kira 10 kilometer. Kalau tak bawa kendaraan pribadi, bisa naik ojek dengan tarif Rp.20.000. Mau mencoba jalan kaki?
Tidak dilarang. Dalam waktu 4-5 jam, pasti sudah sampai di kawasan parkiran dengan bonus dengkul yang pengkor.

Kurang lebih 2 jam perjalanan dari terminal Garut menuju parkiran Papandayan, dengan jalan yang rusak dan berdebu. Sampai di lapangan parkir Papandayan, kami langsung disambut oleh dinginnya udara dan sinar matahari pagi.



Kami lalu langsung ke pos pendaftaran pendakian, disana kami cuma bayar secara sukarela kepada petugas polisi hutan dan diberi peta sampai ke pondok salada aja. Katanya kalo ga tau jalan mending ga usah ke Tegal Alun dan ke puncak. Kami semua emang baru pertama kali ke Papandayan, jadi ga ada yang tau jalan tapi semua sepakat kalo bisa harus sampai puncak.
Setelah persiapan siap semua, kami ber-7 pun siap memulai pendakian, dengan tema “pendakian ceria 7 icon”, kami mulai menundukan kepala, mengedahkan tangan berdoa sebelum menjajaki gunung yang indah ini. Tepat Pukul 09.00, langsung saja kami semua mengarahkan langkah menuju kawah. 
Adapun treck pendakian pertama yang akan kami lewati adalah :
Jalur bertabur kilau emas
Disebut seperti itu karena sepanjang jalur ini banyak sekali bebatuan kuning yang mengandung belerang bila dari kejauhan terlihat sepeti bebatuan emas. Jalur ini cukup panjang dan berbatu hingga akhirnya melewati kawah yang mengepulkan asap belerang. Beberapa kali asap belerang mengarah ke kami yang sedang berjalan. Alhasil, mata menjadi perih dan napas menjadi sesak dan batuk, apalagi bagi karena jalurnya, tetapi panjang nya trek yang kami lewati.

saya yang punya penyakit ashma, asap-asap ini 
sangat mengganggu dan menguras napas saya






Lawang Angin
Selepas kawah, trek selanjutnya adalah Lawang Angin, sebuah celah besar yang membelah sebuah punggungan. Jalur lebar ini ternyata dulunya memang bisa dilewati mobil offroad hingga ke daerah hokberhut. namun sejak letusan 2002, jalur mobil ini terputus sehingga mustahil dilewati.

“Nanti kalau sampai Lawang Angin, jalan terus ke Selatan ya..." ujar seorang pemandu Bapak yang membawa motor Trail yang hendak ke perkebunan. Ternyata benar katanya. Selepas Lawang Angin ada sebuah lapang besar, dan jalur mobil mengarah ke Barat. Kalau keasikan mengikuti jalur, bisa-bisa malah turun di daerah Pangalengan.



Jalur yang benar adalah masuk ke dalam hutan, selepas lapangan besar tadi. Tambahan pula, lapangan tersebut selalu becek akibat bocornya saluran air petani. Jadi pintar-pintar sajalah memilih jalurnya. Kalau tidak mau repot pilih jalur, terabas saja terus. Minimal lumpur se-tumit akan menghiasi kaki.  

Pondok Salada
Memasuki jalur hutan tersebut, jalanan akan sedikit menanjak. Menjelang Pondok Salada, jalanan akan kembali melandai. Motor villager masih bisa masuk ke jalur ini. Jadi kalau ragu dengan jalurnya, lihat saja jalurnya, masih ada jejak motor atau tidak. Jika perjalanan lancar tanpa kendala, dengan berjalan santai saja dalam waktu satu setengah jam dari parkiran, sudah sampai di Pondok Salada, sebuah dataran luas yang biasa dipakai berkemah. Pukul 10.45, kami tiba di Pondok Salada, langsung mendirikan tenda, sementara menunggu para lelaki mendirikan tenda, kami srikandi-srikandi mulai menyiapkan peralatan untuk memasak makan siang.



Setelah selesai memasak, kami makan siang bersama ditemanin dengan derupan angin khas pondok salada yang sejuk mengalahkan teriknya sinar matahari, disini kami menyadari begitu adilnya Allah SWT, sampai ditengah panas diberi kesejukan untuk kami. Selesai makan kami mencuci peralatan memasak dan mengambil air untuk persedian. 


Perut kenyang dan sejuknya udara menghantar mata kami kealam mimpi. Satu persatu mulai masuk tenda dan melakukan ritual anak TK disiang hari, “BOBO Tiyang”

Terbangun dari tidur siang, kami bersiap-siap menuju puncak sebagaimana yang telah disepakati bersama kami akan menikmati sunset di puncak. Tak menunggu lama kami langsung bergegas menuju trek ke puncak walau diantara kami tidak ada yang tahu dimana jalur menuju puncak. Kami hanya berbekal info dari pendaki tetangga tenda sebelah mengenai trek kami semua tetap semangat mendaki kembali. Dengan perkiraan Submit sekitar 30-45 menit kami kuatkan tekad menuju puncak dimana akan melalui Tegal alun yang terkenal dengan padang edelweissnya.


Kami mulai melalui trek yang becek yang kanan kirinya ditumbuhi oleh padang ilalang, yang membuat kaki kami gatal-gatal, tak lama menyusuri trek ini kami mulai memasuki trek hutan rimbun, sambil terus mencari jalur karena ketidaktahuan kami akan trek menuju puncak, kamipun mendapat petunjuk ada banyak marking tali rafia biru dan merah di pohon-pohon. Marking tersebut selanjutnya menjadi patokan petunjuk arah kami untuk menuju puncak atau TOPDA.



Tegal Alun
Keluar dari hutan yang lebat, lalu treck selanjutnya adalah bebatuan besar dan menanjak. Trek bebatuan kami laluI kurang lebih 15 menit, sampai akhirnya menemui hamparan ladang edelweiss luas. Tak memakan waktu banyak kami langsung berfoto-foto ria, mengingat jam masih menunjukan jam 2.15 kami puas­puaskan berfoto di padang ini.



Puas berfoto kami melanjutkan perjalanan menuju TOPDA atau puncak. Jalur menuju puncak dari tegal alun membingungkan banyak cabang, yang tadinya banyak pepohan lebat dalam waktu sekejap sudah berubah keadaan menjadi jalur yang dipenuhi oleh pepohonan cantigi. Tidak ada lagi daun-daun pakis, yang ada hanya kayu tumbang dan sarang laba-laba yang melintang. Sesampainya di TOPDA kami malah heran bukan kepalang karena Puncak Papandayan 2665mdpl, adalah sebuah hutan lebat, tanpa ada pemandangan menuju ke bawah. Dipakai foto-foto pun tidak bagus. Kami sadar, kenapa jarang orang yang mau susah payah naik ke TOPDA. Orang disini gak keliatan apa-apa,  malah serasa di tengah hutan. Suasana TOPDA, jangan dibayangkan ada tulisan macam "Selamat, Anda di Puncak", atau ada tugu triangulasi, yang ada hanya malah berasa di dalam hutan sungguh mengecewakan. Walau begitu kami tetap senang dan ceria bersama serta tidak ketinggalan bernasis ria kembali.



Melihat pemandangan alam yang begitu indah, padang Edelweis, sunset, Gunung Cikuray dan kota Garut. Semuanya menyatu dengan baik. Begitu sempurna segala ciptaan-Mu. Tak hentin-hentinya kami mengucap Subhanallah atas segala nikmat yang telah Kau berikan ya ALLAH.



Puas menikmati sunset, kami bergegas turun menuju pondok salada tempat kami bermalam. Sesampainya di tenda kami memasak untuk makan malam. Malam pun tiba taburan bintang jatuh menemani malam kami. Malam yang begitu indah dan kebersamaan yang begitu hangat menjadikan suasana damai sangat terasa. Kebersamaan yang tercipta dalam setiap perjalanan akan berbuah pada tali persaudaraan. Malam pun berganti pagi, tiba saatnya kami menikmati sunrise dari Pondok Salada.



Inilah matahari yang menyambut pagi kami di Papandayan. Teriknya yang sangat menghangatkan hati dan tubuh. Pagi disambut dengan senyuman, sarapan dan beres-beres kembali untuk melanjutkan perjalanan, pulang. Tepat Pukul 10.00 kami meninggalkan Pondok Salada. Rute pulang kami dimulai dari hutan mati dan danau susu, kemudian melewati danau volcano dan diakhiri dengan trek bebatuan. Kembali kami dibuat kagum, dan mengucapkan Subhanallah.



Perjalanan pulang yang terhitung lama hampir 2,5 jam kami tempuh, sebenarnya trek perjalanan normal bisa ditempuh dalam waktu 1 jam namun karena kami semua selalu mengabadikan setiap tempat yang kami jumpai dan moment – moment kebersamaan, jadilah waktu turun lebih lama dibanding naik. Sampai di pos registrasi Pukul 12.30, tak menunggu lama sebagian dari kami langsung mandi dan sebagian lagi masak untuk makan siang menghabiskan sisa logistic. Setelah semua mandi dan makan, kami menunggu mobil pik­up untuk mengantar kami kembali ke terminal Guntur.



Hitung-hitungan biaya selama perjalanan :
Bus Primajasa JKT-GARUT PP                      : 70.000
Sewa angkot Guntur-Papandayan150Rb/7         : 21.000
Registrasi Pendakian Sukarela                          : 2000
Mandi dll / alias ke Toilet                                  : 2000
Sewa Pik-Up Papandayan-Guntur                    : 15000
Logistic & Snack                                             : 20000
Souvenir                                                          : 5000
                                                                         

INDONESIA memang INDAH, dengan uang sebesar itu kita bisa menikmati keindahan alam yang tak ternilai. 
I LOVE INDONESIA. INDONESIA WONDERFUL. TIDAK ADA NEGARA SEINDAH INDONESIA.


Ditulis oleh: Febri Indah

1 komentar:

  1. Murah sekali yaaaaaaaaa.... ^_^

    BalasHapus