Jumat, 13 Januari 2012

Semua Tentang Toraja - Tana Toraja



Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008, bagian utara wilayah kabupaten ini dimekarkan menjadi Kabupaten Toraja Utara.



Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.
Buntu Kalando
Tongkonan/rumah tempat Puang Sangalla' (Raja Sangalla') berdiam. Sebagai tempat peristirahatan Puang Sangala' dan juga merupakan Istana tempat mengelola pemerintahan kerajaan Sangalla' pada waktu itu, Tongkonan Buntu Kalando bergelar "tando tananan langi' lantangna Kaero tongkonan layuk". saat ini Tongkonan Buntu Kalando dijadikan Museum Tempat meyimpan benda-benda prasejarah dan peninggalan kerajaan Sangalla'.
Pallawa
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao.
Londa
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.
Ke’te Kesu
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.
Batu Tumonga
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2–3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan Rantepao dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sesean dengan ketinggian 1300 meter dari permukaan laut.
Lemo
Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kita dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma' Nene.

Tana Toraja adalah salah satu tempat konservasi peradaban budaya PROTO MELAYU AUSTRONESIA yang masih terawat hingga kini. Kebudayaan adat istiadat, seni musik, seni tari, seni sastra lisan, bahasa, rumah, ukiran, tenunan dan kuliner yang masih sangat Tradisional, membuat Pemerintah Indonesia mengupayakan agar Tana Toraja bisa dikenal di dunia Internasional, salah satunya adalah mencalonkan Tana Toraja ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009.
Hal tersebut didukung oleh Jepang untuk menjadikan Tana Toraja sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Jepang sendiri akan ikut dalam upaya konservasi tersebut, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu.
Dukungan ini disampaikan dalam pertemuan antara delegasi Indonesia dan Jepang di Poznan, Polandia, Sabtu (11/9/2010), Pertemuan dilakukan setelah usainya Pertemuan Para Menteri Kebudayaan Asia dan Eropa (Asia-Europa Culture Minister Meeting/ASEM) yang keempat pada 9-10 September di Poznan yang dihadiri oleh perwakilan dari sekitar 40 negara di Asia dan Eropa.

diposkan oleh Octa
sumber: wikipedia

Semua Tentang Toraja - Suku Toraja




Kabupaten Tana Toraja adalah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan.Ibu kota kabupaten ini adalah Makale. Sebelum pemekaran, kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.990 km² dan berpenduduk sebanyak 248.607 jiwa (2007).

SUKU TORAJA
anak perempuan Toraja dalam upacara pernikahan

Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, danKabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.
Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

IDENTITAS ETNIS
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. "Toraja" (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya "Toraja" lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar— seperti suku Bugis dan suku Makassar, yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa'dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama—suku Bugis (kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang dan nelayan), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).

SEJARAH
toraja (hijau), makasar (kuning), bugis (merah)

Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan, adalah tempat asal suku Toraja. Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan yang menguntungkan Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja berpindah ke agama Kristen.
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

KELAS SOSIAL

Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga.
Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati.

AGAMA

Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang disebut aluk, atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta. Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo' Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.
Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian. Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

KEBUDAYAAN - Tongkonan

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk").
Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka dengan leluhur mereka. Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan menggelar upacara yang besar.
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu membangun tongkonan yang besar.

KEBUDAYAAN - Ukiran kayu
setaip panel melambangkan niat baik

Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Untuk menunjukkan kosep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura(atau "tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.
Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.
pa'barre allo (matahari)

pa'tedong (kerbau)


pa're'po' sanguba (menari)

ne'limbongan (perancang legendaris)

KEBUDAYAAN - Upacara pemakaman

Tempat penguburan Toraja yang diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sebuah makam.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puyajika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.


KEBUDAYAAN - Musik dan Tarian

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong). Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma'akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.
Tarian Manganda' ditampilkan pada ritual Ma'Bua'.
Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarianMa'gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'buaadalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.

diposkan oleh Octa
sumber: wikipedia

New Year 2012 At Dieng Plateau


Menjelang tahun baru 2012,semua orang sibuk dengan rencana perjalanannya masing-masing. Tak terkecuali saya,karena tahun ini (2011) saya belum berhasil menjamah dinginnya dataran tinggi  dieng,saya pun berencana  untuk mengunjunginya saat malam pergantian tahun.

Semua orang yang pernah bilang ingin ikut backpacking bareng,saya ajak satu persatu. Dengan harapan susananya akan sangat meriah saat malam pergantian tahun jika di lewati bersama-sama,walau pada ahirnya hanya ada satu orang saja yang bener-bener bisa ikut. Setelah dapat ke pastian teman yang satu ini  ikut,saya putuskan untuk membeli tiket bis jurusan karawang – wonosobo h-1,hargany bisa di bilang agak mahal dengan membayar uang 60k/orang kita hanya mendapat fasilitas kursi dengan pormasi 2-3 dan angin malam yang siap berhembus menemani perjalan.

Tanggal 30 desember, sekitar pukul 19:30 kami berdua (saya dan seorang teman) sudah duduk manis di kursi  deret  belakang  bis yang akan membawa saya ke wonosobo,suasananya saat itu penuh sesak dengan beberapa orang yang berdiri di selasar antara kursi, di tambah lagi banyaknya barang bawaan yang di bawa para penumpang bus, ya,,maklum lah banyak orang yang akan pulang kampung dan membawa berbagai macam oleh-oleh buat keluarganya.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, perjalanan menuju wonosobo pun di mulai. Bis melaju membelah jalanan kota karawang yang saat itu nampak mendung. Sebenarnya saya sangat malas jika harus bepergian jarak jauh menggunakan bis,karena hal ini mengharuskan saya  mengkonsumsi obat anti mabuk dengan dosis yang lebih tinggi ke timbang dosis yang harus saya minum saat naik kereta,hahaha *memalukan,udah gede masih minum obat anti mabuk.  Perjalanan ke wonosobo di tempuh sekitar 10 jam,tak ada hal yang bisa di nikmati sepanjang perjalanan karena malam hari, jadi saya lebih banyak habiskan waktu untuk tidur.

Menjelang fajar,kami di sambut sinar matahari cerah dan barisan pegunungan yang nampak jauh  di sebelah  kiri jalan. Rupanya kita sudah sampai di wilayah banjarnegara,perjalanan dari banjarnegara menuju wonosobo kita banyak melewati perkebunan salak pondoh dan hutan serta beberapa kali berpapasan dengan petak-petak sawah. Begitu memasuki wilayah wonosobo kami melihat sebuah gunung yang begitu gagah tersinari mentari pagi,entahlah apa nama gunung itu.

Sekitar pukul 6 pagi kita sampai di terminal wonosobo, dari terminal  kami menaiki angkutan kota(mini bis) menuju pertigaan  tempat mini bis yang akan ke dieng  dengan membayar tarip sebesar  2 k (sebenarnya  bis  yang kami tumpangi  melewati pertigaan ini,namun karena kami tidak tau jadi kami bablas ke terminal wonosobo). Fyi: jika kalian  berangkat dari arah barat(jakarta,karawang,bandung,dsk) kalian harus berhenti di pertigaan yang akan ke dieng,bilang saja ke supir busnya minta di turunkan di pertigaan yang akan ke dienga. Namun jika kalian berasal dari wilayah timur(jogja,semaranga,jawa timur,dsk) kalian turun di terminal wonosobo dan melanjutkan perjalanan ke pertigaan yang ada mini bis  ke diengnya dengan menggugnakan angkutan kota(mini bis juga) .

view sepanjang perjalanan
Sesampainya di pertigaan,kami langsung menaiki mini bis tujuan dieng dengan membayar tarip sebesar  10k/orang.  Ada yang menarik dengan angkutan ke dieng,tak peduli jumlah kursi yang kosong atau tempat  yang tersedia,kondetur mini bis terus menjejalkan ornag-orang  yang  ingin menaiki angkutan ini, dan anehnya para penumpang ini mau saja terus di jejalkan ke dalam  mini bis  yang sudah sangat  penuh sesak(mungkin  karena sedikit angkutan yang melayani trayek ini atau mungkin karena orang-orang  itu sedang terburu-buru,entahlah).



Setelah menempuh perjalana selama kurang lebih   1jam tepatnya sekitar pukul 7:30 kita sampai di dieng. Kami turun tepat di pertigaan, di situ berjejer  berbagai penginapan dan yang paling mencolok adalah penginapan bu jono yang ber cat orange cerah yang tepat di sebelah kanan pertigaan. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami putuskan dulu untuk beristirahat sebentar di sebuah warung nasi dan memesan sarapan, dengan harapan gerimis akan segera reda.  Karena memang saat itu sedang turun hujan dan kabut yang cukup tebal  menyelimuti perbukitaan . Setelah kenyang dan hujan yang mulai reda,kami mulai menyusuri jalan pertigaan ke  sebelah kanan,kami mencari penginapan “ASRI”,karena ke betulan kami memang berencanan menginap di sanan(karena harganya sangat bersahabat dengan kantong kami). Setelah muter-muter jalan dan bertanya ke sanan kemari  ahirnya kami kembali menuju pertigaan saat pertama kali kami sampai. Dan berjalan ke arah sebaliknya . Fyi: penginapan asri teletak di jala sebelah kiri dari pertigaan,letaknya sekitar 10 meter seberang jalan  mesjid besar  yang ada di sana.

hotel "asri"

Setelah bertemu dengan penjaga penginapan kami  di tunjukan sebuah kamar yang memang sudah kami pesan. Tarif permalamnya hanya  50k dengan kamar mandi di luar dan tempat tidur yang bisa di gunakan untuk 2 orang. Setelah selesai dengan penginapan dan menaruh tas, kita melanjutkan perjalanan ke objek wisata yang ada di sana. Dengan berbekal  petunjuk arah pemilik penginapan dan melihat peta yang tertempel di penginapan ,kami mulai menyusuri jalan ke arah kiri penginapan. Tips: kalo berencana jalan kaki,ada baiknya memotret peta yang tertempel di penginapan. Karena sangat berguna saat kalian kehilangan arah.

tanaman kentang


Kami berjalan  begitu semangat, udara yang bersih dah suhu yang sejuk membuat perjalanan menjadi begitu menyenangkan, di tambah lagi cuaca yang sangat cerah dan tak tampak ada kabut tebal di mana-mana. Sejauh mata memandang hanya bisa kami temukan hamparan perbukitan yang di tanami tanaman kentang. Samar-samar kami melihat komplek candi arjuna,namun tujuan kami yang pertama bukan itu,kami akan mengunjungi telaga warna terlebih dulu.
Setelah berjalan sekitar 1km,kami bertemu dengan penjaga tiket masuk kawasan objek wisata. Dan  dengan membayar tiket terusan seharga 20k/orang  kita bisa masuk dan menikmati  4 objek wisata yang ada di sana (telaga warna,dieng theater,kawah sikidang dan komplek percandian). Sekitar 10 meter setelah pos pembelian tiket,ada sebuah bangunan kecil  berwarna hijau.

Kami langsung arahkan  kaki ke kiri melewati jalan setapak dan menembus lebatnya semak belukar,sebenarnya kami tahu jalan ini karena sebelumnya kami  bertanya pada penjaga tiket tadi,mengenai  jalan menuju bukit yang memiliki view ke arah telaga warna. Bukit ini juga sering di kunjungi wisatawan  karena dari atas bukit ini kita akan di suguhkan pemandanagn elok dari telaga warna dan telaga pengilon. Namun sayang,sepertinya tempat ini tak terlalu di perhatikan oleh pengelola, karena sama sekali tidak ada petunjuk arah atau pun nama bukit ini. Di tambah lagi jalan setapak yang licin saat turun hujan serta  sebagian besar jalan setapak  sudah tak tampak karena tertutup lebatnya belukar.
Perjalanan ke atas bukit bisa di bilang tidak terlalu mudah,kombinasi jalanan yang menanjak serta licin menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Di tambah lagi jurang(lereng bukit yang curam) yang mengnganga  di sebelah kanan kami menambah ke hati-hatian langkah kaki  kami. Setelah 10 menit menyusuri jalan setapak,kami hentikan langkah dan mulai mengambil gambar. Meski saya tahu ini bukan puncak dari bukit ini,tapi saya tak tega melihat exspresi teman saya yang sudah  tak kuat untuk berjalan lagi,ya ahirnya saya menikmati ke elokan telaga dari sini meski rasanya kurang maksimal.



 Begitu di rasa puas,kami kembali turun dan melanjutkan perjalanan ke telaga warna. Di gerbang telaga warna kami menyerahkan tiket terusan untuk di perikas,dan setelah di ijinkan masuk kawasan telaga warna saya mulai mencium bau busuk(bau belerang) yang samar-samar,  telaga warna itu sendiri adalah telaga dengan konsentrasi belerang yang terlarut di dalam airnya( ini sama persis dengan danau di kawah ijen,meski kadar belerangnya berbeda). Begitu mencapai pinggir telaga,saya di suguhkan pemandangan yang cukup menenangkan mata,sebuah genangan air besar(telaga) berwarna biru muda ke hijauan dengan gelembung-gelembung kecil yang timbul ,asap tipis yang menyapu permukanan telaga serta jajaran pohon di sepanjang garis telaga menjadi perpaduan yang sempurna. Telaga ini nampak di rawat dengan baik dengan adanya fasilitas jalan setapak  di sepanjang pinggir telaga. kami tak berjalan-jalan di telaga ini, kami hanya berdiam diri di sebuah pohon tumbang yang sepertinya sudah sangat lama berada di sana, sambil sesekali melemparkan pandangan jauh ke penjuru telaga.


Setelah di rasa  puas menikmati keindahan telaga warna,kami kembali melanjutkan perjalanan menuju dieng plateau  theater. Jalan setapak menuju theater  masih berada di kawasan telaga,tepatnya di sebelah kanan setelah berjalan sekitar 10 meter dari gerbang masuk telaga.

Jalan menuju dieng theater melewati beberapa anak tangga yang sudah di penuhi tumbuhan lumut,jadi agak licini. Letak dieng theater sendiri terletak di atas bukit,jadi butuh tenaga yang cukup untuk menaiki beberapa anak tangga ini.
Di sepanjang jalan  menuju dieng theater pun kita bisa melihat ke indahan telaga warna dari atas sini. setelah berjalan sekitar 10 menit kita sampai di bangunan theater, di sini banyak di jumpai para penjual kentang goreng dan purwaceng. Tanpa pikir panjang kami langsung memesan seporsi kentang goreng yang di bandrol  5k/porsi. Rasa kentang gorengnya sama saja dengan kentang goreng  kebanyakan,namun yang spesial di sini adalah karena kentangnya sendiri masih fresh dan rasa hangat kentang yang baru matang  menjadi sensasi tersendiri di tengah  udara dieng yang dingin, itulah mengapa banyak yang merekomendasika kentang goreng dieng sebagai makanan wajib jika berkunjung ke sini.

Sambil menunggu jadwal pertunjukan di dieng theater yang di mulai setiap sekitar 23 menit sekali,satu demi satu potongan kentang hangat berbumbu keju dengan olesan saus sambal meluncur bebas ke lambung saya.  Si ibu penjaga warung menawarkan minuman hangat semacam jamu yang di sebut purwaceng,namun saya menolaknya. Karena saya baru akan mencicipi minuman itu nanti malam . Berdasarkan cerita banyak orang, purwaceng paling pas di minum di malam hari saat udara bener-bener dingin,rasanya akan sangat  mantap (fyi: 1 gelas purwaceng di hargai 10k/gelas,*mahal juga ya).  Pintu theater terbuka dan petugas theater mempersilahkan kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang mirip bioskop versi mini dengan kursi mungkin sekitar 50 buah kursi. Saat itu pengunjung theater dieng cukup sedikit mungkin sekitar 15 orang saja,saat semua sudah masuk dan duduk di kursi masing-masing, mulailah lampu di matikan dan sebuah layar mulai memutarkan sebuah filem dokumenter tentang dieng. Keren,,itu kata pertama yang meluncur dari  mulut saya, saya di buat terpanan dengan filem yang sedang di putar ( pokoknya ini tempat paling wajib kudu di datengin kalo main ke dieng).


Setelah selesai menonton filem dokumenter yang super keren,kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah sikidang,kawah sikidang sendiri  letaknya memang cukup jauh dari sini. Namun  jika tak ada kabut, kawah sikidang dapat  terlihat jelas dari theater ini. kali ini kami berjalan melalui bagian depan theater ,melewati tulisan besar bertuliskan nama tempat ini. Rupanya di depan bangunan theater ini   ada jalan raya,jadi buat yang tak ingin “mendaki” bukit  seperti yang kami lakukan,bisa melewati jalan raya menggunakan kendaraan dan berhenti tepat di parkiran di sebelal bangunan theater.

Kami mulai berjalan ke sebelah kanan  menuruni jalan raya, sepanjang jalan  di hiasi dengan pohon yang  bunganya  mirip terompet berwarna kuning (ntah apa namanya) . Setelah berjalan sekitar 300 m kami  bertemu dengan pertigaan, kami ambil arah ke  kanan. Sekitar 10 meter setelah pertigaan kami kembali bertemu dengan persimpangan jalan dan mengambil arah kiri. Setelah berjalan selama 10 menit kami sampai di petiganan jalan yang ke arah  sikidang dan komplek candi arjuna.




candi bima
Tepat di persimpangan ini pula kita bisa melihat canti bima yang berdiri kokoh seorang diri. Dari pertigaan ini kami arahkan kaki ke sebelah kiri menuju gerbang kawah sikidang. Ternyata  jarak antara gerbang sampai kawah sikidang cukup jauh, gerimis mulai turun dengan intensitas rendah mengiringi langkah kaki kami menuju kawah sikidang. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan sebuah pipa yang sangat besar melengkung di atas jalan raya,pipa ini sendiri merupakan pipa yang menyalurkan uap air untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi.  Setelah berjalan sekitar 15 menit kami sampai di parkiran objek wisata kawah sikidang.


Dari tempat ini kepulan asap kawah sudah nampak terlihat mengepul tebal, kami  berjalan mendekati pusat letupan kawah(kewah utamanya mirip letupan lumpur lapindo versi mini). Sepanjang jalan mendekati kawah utama, kami juga melihat gelembung-gelembung letupan di kubangan-kubangan kecil. Sesampainya di pusat  kawah, saya melihat sebuah kubangan lumpur yang mendidih dengan letupan-letupan cukup besar. Lebar kawahnya mungkin kurang dari 5 m dan di batasi pagar bambu. Kami tidak berlama-lama di sana karena bau belerang yang  yang menyengat dan membuat sesak( ada baiknya jika ke sini memakai masker).

Setelah puas mengambil beberapa gambar saya putuskan untuk kembali ke parkiran,di tempat parkir ini juga banyak terdapat bangunan yang menjual aneka oleh-oleh. Dari aneka buah-buahan sampai bunga edelwis juga di jual di sini. Kami hanya berputar-putar saja melihat berbagai barang dagangan yang  berjejer( niat hati ingin beli tapi apa boleh buat dompet enggang terbuka,,hahah).
Dari sini kami kembali berjalan menuju pintu gerbang,dan melanjutkan perjalanan ke komplek percandian. Setelah berjalan  kaki selama 30 menit kami sampai di candi gatot kaca jarak antara kawah si kidang ke candi ini sekitar 2KM. Di deket candi gatot kaca juga ada musium purbakala namun kami tidak menyempatkan diri untuk masuk dan melihat-lihat.
candi gatot kaca
Setelah di rasa cukup puas  melihat-lihat candi gatot kaca perjalanan di lanjutkan ke komplek candi arjuna. Jalan dari candi gatot kaca ke komplek candi  arjuna melewati jalan setapak yang sudah di tata rapi dengan deretan pohon cemara sepanjang jalan. Begitu sampai candi arjuna  kami di sambut 5 buah bangunan candi yang masing-masing di beri nama sesuai  tokoh pewayangan.

komplek candi arjuna

nama-nama candi di komplek candi arjuna
Di sini kami habiskan waktu cukup lama,karena selain ini tepat terahir yang kami kunjungi tempat ini juga sangat nyaman untuk istirahat dan saat itu juga tidak terlalu ramai pengunjung.  Di dekat komplek candi arjuna juga terdapat candi  setyaki, dan saya sempat mampir ke candi ini. Meski letaknya tidak terlalu jauh dari komplek candi arjuna namun candi ini luput dari kunjungn wisatawan,karena sedikit sekali orang yang melihat-lihat atau untuk sekedar poto-poto.


candi setiyaki
Pukul 2 siang kami sudahi kunjungan kami  di komplek percandian ini dan kembali ke penginapan untuk istirahat, karenan kaki sudah sangat pegal dan rasanya sudah tak ingin jalan lagi. Saya juga menyempatkan tidur siang  agar saat pesta kembang api nanti malam tidak ngantuk...

Tips Mengatasi Kendala Bahasa di Negeri Orang

Bagaimana caranya mengatasi kendala ketika kita jalan-jalan di daerah asing yang hanya mengenal bahasa setempat sementara kita buta bahasa tersebut? Silakan coba kiat-kiat berikut:

Bahasa isyarat

Gunakan bahasa isyarat jika anda sudah kebingungan untuk mengungkapkan keinginan anda dalam bahasa lokal. Namun kadangkala ada isyarat tertentu yang tidak sama bahkan bertentangan artinya di dua wilayah. Misalnya gelengan kepala di India. Untuk kita di Indonesia dan bangsa lain pada umumnya, memiliki arti “tidak”, padahal di India bisa berarti “ya” tergantung model gelengannya.

Referensi gambar

Alternatif lain untuk menyampaikan apa yang diinginkan adalah dengan menunjukkan gambar. Anda dapat menunjukkan gambar dari koran, majalah, atau jika mampu menggambar dengan cukup baik, bisa Anda gambarkan di secarik kertas. Bahkan Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti foto dalam ponsel, billboard, atau poster yang ada di sekitar.

Ditulis

Beberapa hal akan lebih baik dikomunikasikan dengan cara ditulis. Contohnya jika ingin memberi tahu supir taksi untuk mengantar Anda ke suatu tempat. Beberapa bahasa sangat sensitif dengan pengucapan dan intonasi. Beda intonasi bisa menimbulkan arti yang berbeda pula. Dengan menuliskan tempat yang Anda maksud, kesalahpahaman lebih mudah dihindari. Bila Anda berjalan-jalan di Cina, misalnya, akan lebih mudah menunjukkan brosur tempat yang akan dikunjungi atau Anda bisa minta tolong petugas penginapan untuk menuliskan alamat yang dituju dengan huruf setempat.

Hafalkan kata-kata penting

Sebaiknya Anda menghafal beberapa kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari seperti maaf, tolong, terima kasih, kamar kecil, di mana, naik apa dan sebagainya. Kalau terlalu sulit untuk diingat semua, buat catatan untuk digunakan saat diperlukan.

Meminta bantuan

Ketika kesulitan komunikasi sangat parah dan semua tips di atas tidak membantu, saatnya Anda mencari bantuan dari sekeliling. Salah satu caranya dengan mencari seseorang yang kelihatannya cukup terpelajar, misalnya orang berkacamata dan memakai jas rapih. Setidaknya ia mampu menangkap bahasa isyarat atau cara-cara lain yang Anda gunakan karena umumnya orang dengan pendidikan yang cukup baik, terbiasa berpikir nalar dan lebih mudah menerima common sense.


sumber: yahoo travel

Posted by saproll - http://artikelbebas.com