Senin, 02 Juni 2014

Anambas, Si Cantik yang Layak Diperjuangkan (Part 1)

Pulau Bawah, Anambas

Dalam suatu obrolan paska jalan-jalan, seorang teman nyeplos soal Anambas sebagai tujuan berikutnya.  Kami semua setuju aja, meski masih di awang-awang. Maklum semuanya adalah pecandu jalan-jalan.
Menurut teman, kepulauan ini dinobatkan sebagai kepuluan tropis tercantik seAsia Tenggara versi NatGeo (entah tahun berapa), mengalahkan Phuket dan Halong Bay. Saya pribadi tidak khusus mencari kebenaran info ini.
Tidak berapa lama, ada teman BPI yang posting air terjun Temburun yang ada di pulau Tarempa, Anambas. Dan penasaran itu tak tertahankan. 
Setelah deal dengan durasinya (24-30 Mei 2014), akhir November 2013 kami memutuskan untuk mulai beli tiket Jakarta - Batam dan Singapura - Jakarta, karena niatnya setelah dari Anambas, kami akan menyebrang ke Singapura. 
Dan pembagian tugas itupun dimulai...namanya juga share cost...tanggung jawabnya dibagi-bagi juga lah ya...

Renacananya:
- akhir November beli tiket pesawat keluar dan menuju Jakarta
- akhir Maret akan booking tiket pesawat Batam - Anambas pp (karena dari info yang kami dapat, tiket tsb bisa dibooking sebulan sebelum berangkat)
- akhir April transfer ke PIC keuangan untuk pengeluaran selama perjalanan

Tapi...kenyataan berbicara lain...
Sky Aviation yang semula menjadi maskapai yang menjual tiket pesawat Batam-Anambas, dinyatakan bangkrut. Maskapai pengganti menunggu ijin dari DisHub pusat yang tak kunjung terbit (yang menurut info Manager Operasionalnya butuh waktu sebulan untuk bisa keluar...OMG birokrasi..birokrasi x_x).
Akibatnya sejak awal tahun 2014, kami senewen mikiri bagaimana supaya bisa nyampe ke Anambas dengan lead time yang sudah kami susun. Maklum aja, semuanya adalah karyawan dengan hak cuti terbatas (kecuali 1 orang yang berwiraswasta).

Okelah....
Maju terus, pantang mundur, meski senewen maksimal, demi membuktikan kebenaran penobatan NatGeo.

Dan, rute final setelah penyesuaian ini dan itu menjadi:
Jakarta - Batam - Tanjung Pinang - Anambas - Tanjung Pinang - Jakarta.
Kami memutuskan untuk mengorbankan tiket Singapura - Jakarta, demi menyesuaikan jadwal feri, dan juga mempertimbangkan kerugian minimal.


Day 1: Jakarta - Batam - Tanjung Pinang

Landmark Batam - Jembatan Barelang

Menggunakan pesawat Citlink, penerbangan paling pagi (06.30), kami siap menuju Batam.

BATAM
Rute selama di Batam:
pelabuhan Punggur (untuk membeli tiket feri ke Tanjung Pinang) - makan siang - Jembatan Barelang - Galang - Punggur 

Kami memutuskan untuk menyewa mobil untuk keliling Batam karena pertimbangan ekonimis.
Hanya saja, hari itu Galang tidak dapat dikunjungi karena ada perbaikan jalan yang merupakan bagian dari persiapan kedatangan para pejabat dari Jakarta -.-"
Karena ada kabar perubahan jadwal feri menuju Tarempa, kami memutuskan untuk mempercepat menyebrang ke Tanjung Pinang supaya keburu membereskan masalah pertiketan yang selalu bikin senewen ini.
Tiket feri Tanjung Pinang - Tarempa bisa dibooking dari luar kota. Nanti pihak agen akan mencocokkan bukti transfer dan no hp yang terdata di mereka..

Feri Batam - Tanjung Pinang

TANJUNG PINANG
Rute selama di Tanjung Pinang:
Pelabuhan Sri Bintan Pura - agen feri ke Tarempa - hotel - Akau - hotel

Penyebrangan menuju Tanjung Pinang membutuhkan waktu sekitar 50 menit, dan kami langsung jalan menuju Hotel Mutiara. Agen tiket feri yang kami tuju persis berada di samping Hotel Mutiara. 
Hotel Mutiara sebetulnya tidak jauh dari pelabuhan. Hanya saja jika tidak ingin jalan kaki, bisa naik ojek yang entah berapa harganya (gak ada yang berani nanya, takut dikira niat naik ojek).

Setelah tiket menuju Tarempa sudah di tangan, kami check in ke Hotel Mutiara untuk naruh barang bawaan dan bersiap makan malam.
Kami makan malam di semacam lapangan yang menjadi food court kalau malam, yang terkenal dengan Akau (potong lembu), yang juga ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15-20 menit dari hotel Mutiara.
Berbagai macam makanan, minuman, dan jajanan ada di sini. Akau buka mulai jam 18.00 sampai tengah malam sepertinya.

Akau - Potong Lembu

Makam malamnya - marukh khan mode

Tiket sudah dapet, hotel sudah dapet, makan malam juga sudah.
Akhirnya...tinggal semalam lagi untuk menuju Anambas.



Day 2: Tanjung Pinang - Tarempa

Hari yang ditunggu pun tiba. Dengan semangat, kami kembali menuju pelabuhan Sri Bintan Pura.
Untuk menuju Anambas, ada 3 cara:
1. Menggunakan pesawat Batam-Matak (Sky Aviation tapi sudah bangkrut - entah apa penggantinya), tiket Rp. 1 juta flat
2. Nebeng pesawat Conoco Philips dari Batam ke Matak juga (untung-untungan kalo ada seat), tiketnya bisa gratis
3. Menggunakan feri seperti kami, dengan jadwal reguler: 
- Tanjung Pinang - Tarempa: Senin, Rabu, Jumat 
- Tarempa - Tanjung Pinang: Selasa, Kamis, Sabtu
4. Menggunakan kapal pelni Bukit Raya (Tanjung Pinang - Tarempa), jadwalnya 2 minggu sekali

Karena ada perubahan jadwal mendadak (akibat intervensi seorang pejabat), jadinya kami berangkat hari Minggu, karena diinformasikan Senin belum tentu ada kapal. Beneran galau nih yang nentuin jadwal.

Perjalanan menuju Tarempa ditempuh dalam waktu 8-9 jam. Kapal akan singgah dulu di pulau Letung, Kecamatan Jemaja. Kalau punya waktu lebih, bisa singgah di sini semalem untuk menikmati Pantai Padang Melang yang dikenal sebagai pantai cantik yang panjang & banyak harta karunnya.
Sebagai bekal, kami sudah beli berbagai makan kue semalam, ditambah di pelabuhan kami beli nasi bungkus untuk makan siang.

Feri menuju Tarempa

Sesampai di Tarempa, langsung jalan kaki menuju hotel Tarempa Beach yang sudah kami booking sebelumnya.

Menuju hotel

Untuk booking, bisa dilakukan melalui telepon, nanti akan diinformasikan no rekening untuk transfer DP. Tentu saja jangan lupa konfirmasi ke pihak hotel setelah transfer. Saat check in tinggal menunjukkan bukti transfernya.

Suasana sekitar hotel

Kondisi kamar standard AC

Tarempa merupakan pulau kabupaten yang kecil. Tapi saat ini rata-rata penduduknya menggunakan motor untuk transportasi. Kami memilih jalan kaki lagi menuju hotel.

Beres check in, kami mulai berjalan-jalan sekeiling hotel dan membereskan urusan sewa-menyewa speed boat untuk island hopping 4 hari ke depan.

Karena pulau ini kecil dan penduduknya juga tidak terlalu banyak, serta masih jarangnya wisatwan yang berkunjung kemari, jadinya mereka sedikit takjub melihat orang luar yang datang ke sana hanya untuk berlibur, apalagi saat itu transport menuju ke Anambas hanya ada feri dan kapal pelni.
Mungkin dalam pikiran mereka, "emang segitu bagusnya apa, sampe dibela-belain kemari?".

Kesan kami pertama kali terhadap penduduk Tarempa adalah: kurang ramah. Tapi rupanya kesan ini salah. Lebih tepatnya, mereka malu dan minder terhadap orang luar, terutama yang berasal dari kota besar. Oalah...oalah...

Malamitu, kami hanya menghabiskan waktu dengan makan malam + nongkrong di kafe La Luna, yang terletak di samping hotel, dan tidak sabar untuk nyebur besok.


tempat nongkrong tiap malam


next: part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar